Kau
Harus Tetap Sekolah …!

Kisah
ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki
seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak
laki-lakinya untuk saling menopang.
Ibunya
bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum
memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu
minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat
memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas Tetapi justru
saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa
lagi bekerja disawah.
Saat
itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras per
bulan untuk dibawa kekantin sekolah.
Sang
anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras
tersebut dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah
dan membantu mama bekerja disawah”.
Ibunya
mengelus kepala anaknya dan berkata “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah
senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama
sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi
daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.
Karena
sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar
sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh
mamanya.
Sang
anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung
dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak
berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang
kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya pengawas yang
bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil
segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : ” Kalian para wali murid selalu
suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan
gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”.
Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas
tersebut.
oOo
Awal
Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu
pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan
melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang
sama”.
Pengawas
itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan
kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima
tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras
yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka
saya tidak bisa menerimanya”.
Sang
ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya
seperti ini jadi bagaimana?
Pengawas
itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga
bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang
ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
oOo
Awal
bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah
besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu
keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja
berasmu itu !”.
Dengan
berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan
berkata: “Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”.
Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata
apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung
celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang
ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium
terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku
sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja
disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.”
Selama
ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah.
Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap
hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung
sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung
sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan
kesekolah.
Pada
saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai
mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu
sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan
sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang ibu buru- buru menolak dan berkata:
“Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka
itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya
sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa
menjaga rahasia ini.”
Akhirnya
masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala
sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga
tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan
tinggi qing hua dengan nilai 627 point.
sumber : noname
posted by : Jacko
posted by : Jacko
oOo
“Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya,
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan
menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang
Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)
Sumber
:
https://kumpulanceritamotivasi.wordpress.com/2009/07/18/kau-harus-tetap-sekolah/#more-29
Tidak ada komentar:
Posting Komentar